Inovasi “Green Maggot” Telkom University: Solusi Cerdas Pengolahan Sampah Berbasis AI dan IoT di Kelurahan Margasari

Bandung, 29 Mei 2026 – Permasalahan sampah organik yang terus menumpuk di tingkat masyarakat mendorong sekumpulan mahasiswa Telkom University untuk menciptakan “Green Maggot”. Inovasi berupa Sistem Biopond Cerdas berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT) ini dirancang untuk memaksimalkan budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly) sekaligus mengatasi krisis sampah. Di bawah bimbingan dosen pendamping Hassan Rizky Putra Sailellah, tim yang diwakili oleh mahasiswa Telkom University, Athala Angwyn Renaldi, sukses mengimplementasikan teknologi ini dan menyabet dua penghargaan prestisius, yakni Runner Up Kategori Lingkungan dan Best Local Hero pada ajang Innovillage 2025 pada (20/05).

Pengembangan Green Maggot dilatarbelakangi oleh kondisi darurat timbulan sampah organik di Kelurahan Margasari. Dari hasil observasi lapangan, tim menemukan bahwa RW 09 saja menyumbang hingga 2 ton sampah organik per bulan yang seluruhnya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sebelum adanya inovasi ini, penguraian sampah berjalan sangat lambat, memicu bau busuk karena sampah tidak dicacah, dan produktivitas panen maggot warga sangat rendah akibat suhu yang tidak terkontrol. Merespons hal tersebut, tim Green Maggot merancang solusi berbasis teknologi terbarukan.

“Kami merancang Smart Biopond yang dilengkapi mesin pencacah untuk mengatasi masalah bau, serta mengintegrasikan sensor suhu (IoT) dan sistem pendingin otomatis berenergi panel surya (PLTS) untuk menstabilkan kondisi biopond 24 jam penuh,” jelas Hassan Rizky Putra Sailellah, mewakili timnya.

Kehadiran Green Maggot membawa dampak kuantitatif yang sangat signifikan bagi lingkungan dan ekonomi warga Margasari. Inovasi ini terbukti mampu mereduksi hingga 1,6 ton sampah organik per bulan, yang setara dengan menekan 80% volume buangan sampah ke TPA.

Tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, program ini juga berhasil menciptakan ekosistem Circular Economy (Ekonomi Sirkular). Warga kini memiliki pakan ternak mandiri hasil panen maggot untuk ayam dan lele, serta menghasilkan pupuk ‘kasgot’ (bekas maggot) yang sukses meningkatkan hasil panen sayur warga hingga 300 kg.

Dari sisi sosial, tim Telkom University melakukan pendampingan intensif yang berhasil mengubah kebiasaan warga. Kini, sebanyak 30 warga lokal telah dilatih menjadi agen perubahan yang mandiri dan melek teknologi, memantau kondisi biopond melalui Green Maggot Mobile Apps.

Di balik gemerlap dua penghargaan Innovillage 2026 yang diraih, terdapat dedikasi luar biasa dari tim mahasiswa Telkom University. Tim Green Maggot menceritakan bahwa inovasi ini lahir dari malam-malam panjang yang menguras tenaga, di mana tim rela begadang untuk merakit perangkat keras dan memastikan ketepatan sensor.

“Momen yang paling membekas adalah ketika masa liburan tiba. Di saat teman-teman mahasiswa lain mengemasi barang untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga, tim kami harus menahan rindu dan memilih untuk tetap tinggal, Kami mengorbankan waktu istirahat karena sadar krisis sampah organik di Kelurahan Margasari harus segera diselesaikan. Setiap harinya kami bolak-balik dari kampus ke lokasi sejak pagi hingga sore untuk memonitor biopond dan mendampingi warga,” jelas anggota tim.

Ke depannya, dengan dukungan penuh dari sang dosen pembimbing, Hassan Rizky Putra Sailellah, tim Green Maggot berencana memperluas skala implementasi ke dua RW tambahan pada tahun 2027 guna mewujudkan Desa Digital Mandiri. Mereka juga menargetkan kolaborasi hilirisasi dengan stakeholder strategis seperti Sayurbox, Chickin, dan POKPHAND.

Menutup wawancaranya, Hassan menyampaikan pesan inspiratif bagi seluruh sivitas akademika Telkom University agar terus berani turun ke masyarakat.

“Jangan ragu untuk membawa ilmu yang dikembangkan di kelas atau laboratorium langsung ke tengah masyarakat,” pesannya.

Pada akhirnya, teknologi yang paling hebat adalah teknologi yang kehadirannya mampu memberikan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi lingkungan sekitar

Penulis: Khairul Muflih | Editor: Belinda Fransisca Bunadi | Foto: Green Maggot