Jakarta, 28 Januari 2026 – Upaya menciptakan pendidikan tinggi yang inklusif bagi penyandang disabilitas di Indonesia terus menghadapi tantangan yang kompleks. Menanggapi kebutuhan akan dialog berbasis bukti, Telkom University (Tel-U) bersama Lancaster University menyelenggarakan Multi-Stakeholder Discussion of The Landscape of Disability-Inclusion in Higher Education Institutions in Indonesia: Findings, Implementation Gaps, and Policy Directions di Jakarta pada Selasa (28/1).
Kegiatan ini menjadi ruang strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor untuk mendiskusikan temuan riset terbaru, mengidentifikasi kesenjangan implementasi, serta merumuskan arah kebijakan pendidikan tinggi inklusif di Indonesia.
Diskusi dipandu oleh Eka Prastama, S.T., Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, dan dihadiri perwakilan dari sejumlah lembaga kunci: Telkom University, Lancaster University, staf khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Sosial Republik Indonesia, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Forum ini diawali dengan pemaparan data penelitian, dilanjutkan sesi diskusi terarah untuk menggali interpretasi, tantangan, serta peluang kolaborasi lintas sektor. Riset The Landscape of Disability-Inclusion in Higher Education Institutions in Indonesia mengungkap tiga isu utama:
Banyak perguruan tinggi belum memiliki Unit Layanan Disabilitas (ULD) atau mekanisme pendukung yang memadai bagi mahasiswa maupun tenaga pendidik penyandang disabilitas.
Pendanaan khusus untuk inklusi disabilitas masih sangat terbatas, sehingga berbagai inisiatif berjalan tidak berkelanjutan.
Belum tersedia data mahasiswa disabilitas yang reliabel dan terintegrasi, sehingga pengambilan keputusan berbasis data menjadi sulit dilakukan.
Di sisi lain, penelitian ini juga menyoroti sejumlah praktik baik dari perguruan tinggi yang telah berhasil membangun sistem layanan inklusif, menunjukkan bahwa perubahan dapat dicapai ketika komitmen institusional, kebijakan, dan sumber daya bergerak selaras.
Diskusi menekankan bahwa regulasi saja tidak cukup untuk mendorong perubahan. Inklusivitas membutuhkan transformasi menyeluruh pada kebijakan, tata kelola, hingga budaya kampus. Dibutuhkan komitmen jangka panjang dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan mahasiswa penyandang disabilitas tidak hanya diterima, tetapi juga dapat menyelesaikan studi dengan setara.
Eka Prastama menutup diskusi dengan penegasan: “Keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya soal menerima mahasiswa disabilitas, tetapi memastikan mereka bisa lulus dengan baik.”
Kegiatan ini merupakan bagian dari program i-DEA Hub (Indonesia Disability-Inclusion for Education and Accessibility), sebuah inisiatif kolaboratif Tel-U dan Lancaster University yang didukung oleh Komisi Nasional Disabilitas serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan didanai oleh British Council sejak 2024. Program ini berfokus pada penguatan ekosistem pendidikan tinggi inklusif melalui riset, asesmen, pengembangan teknologi humanis, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan.
Dengan terselenggaranya forum ini, diharapkan para pemangku kepentingan dapat terus memperkuat koordinasi, menajamkan prioritas kebijakan, serta membangun langkah tindak lanjut yang konkret untuk mewujudkan pendidikan tinggi inklusif di Indonesia.
Penulis: Septiana Yustika Widyaningrum | Editor: Abdullah Adnan | Foto: Septiana Yustika Widyaningrum
