Language Center Telkom University Hadirkan Diskusi Global dalam LAFEST 2026

Bandung, 21 Mei 2026 – Language Center Telkom University selenggarakan LAFEST 2026 pada Kamis (21/05),  dengan menghadirkan sesi panel yang membahas kepemimpinan, komunikasi manusia, pembelajaran bahasa, komunikasi lintas budaya, serta peran inovasi digital dalam pendidikan global. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk memahami bahwa kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan keterampilan teknis, tetapi juga erat dengan kepemimpinan, kepercayaan diri, budaya, dan interaksi antar individu.

Sesi panel ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Chris Widener, Best Selling Author and Hall of Fame Speaker; Lloyd A. Luna, Global Professional Speaker; Christine Gneuss, Student and Academic Service Manager DLI; serta Idola Perdini Putri, Ph.D, Director of Digital Learning and Language Center. Melalui perspektif yang beragam, para narasumber membahas bagaimana komunikasi dan bahasa menjadi bekal penting dalam menghadapi lingkungan pendidikan dan dunia kerja yang semakin global.

Dalam pemaparannya, Chris Widener menekankan bahwa kepemimpinan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk memberikan pengaruh kepada orang lain. Menurutnya, seorang pemimpin tidak hanya perlu memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga karakter yang kuat. Ia menyoroti pentingnya integritas sebagai fondasi utama kepemimpinan, yaitu keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan.

“Kepemimpinan pada dasarnya adalah pengaruh, yaitu kemampuan untuk membuat orang lain mendengarkan, percaya, dan bertindak atas ide yang kita sampaikan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa integritas merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Menurutnya, pemimpin yang memiliki integritas adalah mereka yang mampu hidup sesuai dengan nilai, etika, dan prinsip yang diyakini.

Selain integritas, Chris juga menyoroti pentingnya komunikasi positif. Ia menyampaikan bahwa seorang pemimpin perlu memperhatikan bukan hanya kata-kata yang digunakan, tetapi juga bahasa tubuh, nada bicara, dan cara menyampaikan pesan. Komunikasi yang positif, menurutnya, dapat membangun kepercayaan, menciptakan suasana yang lebih baik, dan membuat orang lain merasa dihargai.

Selanjutnya, Lloyd A. Luna membagikan pandangannya mengenai pentingnya membangun kepercayaan diri melalui komunikasi. Ia menceritakan perjalanan pribadinya dari seseorang yang pemalu hingga akhirnya menjadi pembicara profesional di tingkat global. Melalui kisah tersebut, Lloyd menunjukkan bahwa kepercayaan diri tidak muncul secara instan, melainkan dibangun melalui proses panjang, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.

“Kepercayaan diri tidak bisa dibeli, dipinjam, atau diberikan oleh orang lain. Kepercayaan diri dibangun dari waktu ke waktu melalui penguasaan diri dan penguasaan keterampilan,” ungkapnya. 

Pada sesi berikutnya, Christine Gneuss membahas intercultural communication dalam konteks pendidikan global. Ia menjelaskan bahwa bahasa selalu membawa nilai budaya di dalamnya. Melalui pengalaman hidup dan akademiknya di berbagai negara, Christine menunjukkan bahwa mempelajari bahasa asing juga berarti mempelajari cara berpikir, kebiasaan, serta nilai masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut.

“Mempelajari bahasa berarti mempelajari budaya. Bahasa memiliki banyak hal untuk diungkapkan tentang cara berpikir, kebiasaan, dan nilai dari suatu masyarakat,” ujar Christine.

Christine juga menyoroti bahwa kemampuan komunikasi lintas budaya semakin penting di tengah lingkungan akademik dan profesional yang semakin beragam. Menurutnya, kemampuan ini dapat membantu seseorang membangun relasi yang lebih baik, membuka peluang karier, dan memperkaya cara pandang terhadap dunia. 

“Ketika seseorang memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya yang baik, ia akan memiliki kehidupan yang lebih damai, relasi yang lebih baik, dan kesempatan yang lebih luas,” jelasnya. 

Sementara itu, Idola Perdini Putri, Ph.D membahas bagaimana inovasi digital mengubah cara seseorang mempelajari bahasa. Ia menjelaskan bahwa saat ini berbagai aplikasi, platform digital, hingga kelas daring telah membuka akses yang lebih luas bagi siapapun untuk mempelajari bahasa dari mana saja.

“Inovasi digital dapat membantu kita mempelajari bahasa dari mana saja, tetapi teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan interaksi tatap muka,” ujarnya.

Menurutnya, teknologi memang mampu menjadi jembatan dalam memperoleh pengetahuan, tetapi pemahaman bahasa yang utuh tetap membutuhkan pengalaman langsung. Ia menegaskan bahwa bahasa tidak hanya dipelajari melalui aplikasi atau ruang digital, melainkan juga melalui pertemuan, interaksi, ekspresi, gestur, dan konteks budaya.

“Pembelajaran bahasa tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang pengalaman, budaya, makna, dan perasaan yang hadir ketika kita berinteraksi secara langsung,” tambahnya.

Melalui LAFEST 2026, Language Center Telkom University menegaskan perannya sebagai ruang yang tidak hanya mendukung pengembangan kemampuan bahasa, tetapi juga memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi lingkungan global. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa bahasa, kepemimpinan, kepercayaan diri, budaya, dan teknologi merupakan elemen yang saling berkaitan dalam membentuk generasi yang adaptif dan mampu berkomunikasi secara efektif di tingkat internasional.

Info detail mengenai Language Center Telkom University bisa kalian akses dengan mengunjungi website resmi lac.telkomuniversity.ac.id, jangan lupa ya TelUtizen!

Penulis: Najwa Nurul Aulia | Editor: Adrian Wiranata | Foto: Public Relations