Penyebab dan Dampak Perubahan Iklim terhadap Lingkungan

pengacara kantor notaris rumah minimalis judi slot online jawa tengah hari ini berita hari ini konsultan pajak berita crypto hari ini konsultan pajak ganja thailand apartemen subsidi rumah subsidi jasa seo forex investasi jasa pembuatan web pembuatan aplikasi andorid slot gacor kemasan plastik Berita Hari ini forex Hari ini saham Hari ini jateng Hari ini jabar Hari ini jatim Hari ini rumah subsidi apartemen murah jateng Hari ini slot demo slot online hosting murah

Perubahan iklim adalah ancaman utama bagi bumi. Tanpa adanya tindakan pencegahan, maka prosesnya akan terjadi semakin cepat. Memahami penyebab dan dampak perubahan iklim akan membantu kamu lebih aware dan bisa melakukan tindakan yang tepat.

Perubahan Iklim dari Waktu ke Waktu

Iklim di bumi telah berubah dari waktu ke waktu sejak planet ini terbentuk 4,5 miliar tahun yang lalu. Perubahan iklim global sebenarnya berjalan dengan sangat lambat. Hitungannya bisa ribuan hingga jutaan tahun.

Namun, berbagai penelitian terakhir menunjukkan bahwa perubahan iklim baru-baru ini berjalan lebih cepat. Akibatnya, kamu bisa melihat bahwa gletser di pegunungan mulai berkurang karena mencair.

Greenland dan Antartika Barat juga kehilangan lapisan es sebanyak 6,4 triliun ton es sejak tahun 1990-an.[1] Area Samudra Arktik yang tertutup es juga berkurang secara signifikan, bahkan hampir 13% per dekade.[2] Lingkungan dan pemanasan global menjadi hal yang berkaitan erat dalam perubahan iklim.

Penyebab Perubahan Iklim

Perubahan iklim tidak terjadi begitu saja. Berbagai kegiatan manusia dan alam secara natural ternyata juga menjadi penyebab climate change secara global. Berikut adalah beberapa faktor penyebab terjadinya perubahan iklim di bumi saat ini:

1. Gas Rumah Kaca

Greenhouse menghasilkan beberapa gas seperti karbondioksida, metana, dan juga uap air. Uap air akan hilang dalam hitungan hari. Ini berbeda dengan metana yang bisa bertahan hingga 9 tahun.[3] Bahkan saat menghilang pun, metana akan teroksidasi menjadi karbondioksida dan air.

Masalahnya, gas karbon dioksida bisa bertahan hingga berabad-abad dan memerangkap radiasi matahari di atmosfer. Akibatnya, iklim di bumi semakin hangat dan lautan yang bertugas menyerap panas justru mengalami peningkatan suhu di permukaannya. Jika lautan semakin hangat maka fungsinya untuk menyerap CO2 tidak maksimal.

2. Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Banyak aktivitas manusia yang memerlukan bahan bakar fosil dalam prosesnya. Sebut saja penggunaan alat transportasi, operasional pabrik, hingga proses menghasilkan listrik, yang kerap membutuhkan bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak dan gas.

Sayangnya, penggunaan bahan bakar jenis ini menghasilkan emisi dan memicu pencemaran udara, bahkan menjadi kontributor terbesar terhadap perubahan iklim global.[4]

3. Rusaknya Fungsi Hutan

Hutan dan iklim sangat berkaitan karena tumbuh-tumbuhan berfungsi untuk menyerap karbondioksida. Menebang pohon justru melepaskan karbondioksida yang telah diserap dan disimpan. Sementara itu, kebakaran hutan secara sengaja maupun tidak sengaja juga membatasi kemampuan alam untuk mencegah emisi ke atmosfer.

4. Meningkatnya Jumlah Peternakan

Hewan ternak seperti sapi dan kambing turut serta menjadi penyebab berubahnya iklim. Ini karena mereka menghasilkan banyak gas metana ketika mencerna makanan.

Kotoran hewan ternak ini juga mengandung metana yang berpotensi teroksidasi menjadi karbondioksida di atmosfer nantinya.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Lingkungan

Efek dari perubahan iklim ini bisa dirasakan di berbagai sektor kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, lingkungan, hingga kesehatan. Lalu apa saja dampak perubahan iklim terhadap lingkungan?

1. Menurunnya Kualitas dan Kuantitas Air

Curah hujan yang tinggi akibat cuaca ekstrem akan mengakibatkan kualitas air turun. Kenaikan suhu di bumi juga meningkatkan kadar klorin pada air bersih.

Sementara itu, curah hujan yang tinggi juga bisa meningkatkan kemungkinan air langsung kembali ke laut karena tanah tidak bisa menyerap seluruhnya. Kuantitas air yang berkurang juga bisa menimbulkan potensi kekeringan di wilayah yang sulit air.

2. Peningkatan Suhu Bumi

Saat ini semua area di bumi mengalami peningkatan suhu dan gelombang panas. Salah satu yang paling ekstrim terjadi di tahun 2020 lalu.

Menurut NASA, suhu global pada tahun 2022 adalah 1,6 derajat Fahrenheit (0,89 derajat Celsius) di atas rata-rata periode dasar NASA, jika dibandingkan dengan tahun 1951 hingga 1980.[5] Kondisi suhu yang meningkat secara terus-menerus bisa menyebabkan berbagai hal seperti kebakaran hutan, hingga perubahan pola migrasi hewan dan hujan.

3. Memicu Badai Destruktif

Intensitas cuaca ekstrem akan semakin meningkat akibat perubahan iklim. Hasilnya curah hujan dan banjir besar bisa menimbulkan badai destruktif di beberapa wilayah.

Sebagai catatan, badai siklon, taifun, hingga hurikan akan terjadi lebih kuat dan hebat saat ada di permukaan laut yang lebih hangat.

4. Meningkatnya Permukaan Laut

Dampak lain dari perubahan iklim terhadap lingkungan adalah meningkatkan permukaan laut. Ini akibat dari mencairnya lapisan es.

Permukaan laut yang terus meningkat berpotensi merusak infrastruktur penting seperti jalan, instalasi pengolahan limbah, hingga pembangkit listrik. Bahkan air laut bisa masuk ke daratan dan bercampur dengan air tawar.

5. Ecosystem Stressor

Perubahan iklim juga berpotensi meningkatkan kerusakan ekosistem. Contohnya seperti munculnya wabah hama, infeksi patogen, hingga spesies invasif di hutan. Hal ini bisa mengganggu siklus hidup satwa liar dan mengubah komposisi ekosistem secara keseluruhan.

Pada dasarnya ekosistem punya kapasitas untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Namun, perubahan ekstrem bisa memicu hal di luar prediksi. Belum lagi, saat ini sudah banyak ekosistem yang ada di ambang batas kapasitas alami untuk bisa adaptasi perubahan iklim.

“Small action matters!”

Demi mengurangi dampak perubahan iklim, Telkom University sudah melakukan pelestarian lingkungan dengan program green campus. Tidak hanya lingkungan semakin asri, mahasiswa juga semakin nyaman dalam beraktivitas.

Source