Bandung, 29 Mei 2026 – Inovasi mesin SOLVIA karya mahasiswa Telkom University Purwokerto berhasil memberdayakan perajin gula kelapa di Desa Pernasidi, Cilongok, sekaligus menyabet gelar Pemenang Terbaik 1 Tema UMKM & Pemberdayaan Perempuan dalam Innovillage 2025 di Telkom University Kampus Bandung, pada Rabu (20/05).
Kabupaten Banyumas dikenal sebagai salah satu penghasil gula kelapa terbesar di Indonesia. Desa Pernasidi bahkan menjadi sentra produksi yang hasil gulanya diekspor ke luar negeri. Tapi di balik potensi besar itu, ada masalah yang selama ini tidak banyak dibicarakan. Lebih dari 88 persen proses pengayakan gula kelapa dikerjakan oleh para perempuan. Setiap hari, mereka harus berjongkok berjam-jam untuk menyaring butiran gula secara manual. Akibatnya, lebih dari 70 persen dari mereka mengalami nyeri punggung dan kelelahan fisik yang terus menumpuk.
“Kami menyadari bahwa pemberdayaan UMKM tidak akan pernah tuntas jika kesehatan fisik pekerjanya diabaikan,” ungkap Farhat Huda, perwakilan Oyak Ayak Team.
Dari sinilah ide SOLVIA lahir. Bukan dari teori di dalam kelas, tapi dari melihat langsung kondisi para perempuan pekerja di desa.
SOLVIA sendiri merupakan singkatan dari Mesin Pengayak Gula Kelapa Otomatis Terintegrasi Panel Surya dan IoT. Mesin ini dirancang khusus untuk membantu proses pengayakan gula kelapa agar lebih cepat, lebih mudah, dan tidak menyiksa fisik yang membuat cara pakainya sangat sederhana. Para pengolah gula cukup menuangkan gula hasil kristalisasi ke dalam corong di bagian atas mesin. Setelah itu, mesin akan bekerja sendiri menggunakan sistem getar untuk menyaring gula dalam waktu 7 sampai 10 menit untuk setiap 10 kilogram gula. Hasilnya pun jauh lebih baik, ukuran butiran gula menjadi seragam hingga 90 persen, yang membuat harga jualnya lebih tinggi di mata pengepul. Yang membuat SOLVIA makin istimewa adalah tiga keunggulan utamanya:
Pertama, bertenaga panel surya. Mesin ini berjalan 100 persen menggunakan energi matahari dengan kapasitas 585 Wattpeak. Ini sangat penting karena kebanyakan rumah produksi di desa hanya memiliki daya listrik 900 Watt, yang tidak cukup untuk mesin industri. Dengan panel surya, mesin tetap bisa beroperasi penuh tanpa menambah tagihan listrik warga sama sekali. Kedua, dilengkapi teknologi IoT. Sensor di dalam mesin secara otomatis mencatat data produksi dan mengirimkannya langsung ke server CocoBase. Para pengrajin tidak perlu lagi mencatat secara manual, yang selama ini sering tidak akurat. Ketiga, mudah digunakan siapa saja. Seluruh sistem dirancang agar bisa dioperasikan oleh siapapun, bahkan oleh orang yang tidak punya latar belakang teknis sekalipun.
SOLVIA bukan inovasi yang selesai dalam waktu singkat. Proyek ini adalah kelanjutan dari program CocoBase yang sudah dikerjakan tim sejak tahun 2024. Untuk mewujudkan SOLVIA secara penuh, Oyak Ayak Team membutuhkan waktu sekitar 15 minggu atau empat bulan. Prosesnya dimulai dari survei langsung ke lapangan untuk memahami masalah yang ada. Setelah itu, tim merakit mesin bersama bengkel lokal di desa, memasang sistem tenaga surya, lalu mengintegrasikan sensor IoT ke dalam mesin. Tahap terakhir adalah pelatihan warga dan uji coba langsung di lokasi produksi Kelompok Tani Gendis Asri, Desa Pernasidi.
Kenapa memilih Desa Pernasidi? Karena desa ini punya potensi produksi yang besar tapi masih terkendala cara kerja yang manual dan fasilitas yang terbatas. Perpaduan antara potensi besar dan masalah nyata inilah yang membuat Oyak Ayak Team yakin bahwa dampak SOLVIA akan terasa langsung di sini.
Kunci Kemenangan: Selesaikan Masalah Sampai Tuntas
“Kunci utamanya adalah menyelesaikan masalah dari awal sampai akhir. Kami menjawab lambatnya produksi dengan mesin, mengatasi masalah biaya listrik dengan panel surya, dan membereskan pencatatan manual dengan sensor IoT yang datanya langsung masuk ke server CocoBase.”
Para juri Innovillage menilai SOLVIA bukan sekadar alat, tapi sebuah solusi lengkap yang benar-benar bisa dibuktikan hasilnya. Tidak berlebihan dalam klaim, tapi nyata dan terukur di lapangan.
Pencapaian Oyak Ayak Team membuktikan bahwa mahasiswa Telkom University bukan hanya unggul di bidang teknologi, tapi juga peduli terhadap masyarakat dan berani turun langsung untuk membuat perubahan nyata. SOLVIA mengajarkan bahwa teknologi terbaik bukan yang paling canggih atau paling mahal, tapi yang paling berguna, paling tepat sasaran, dan paling dirasakan manfaatnya oleh orang yang membutuhkan.
Penulis: Genie Chiara Diva Putri Gunawan | Editor: Belinda Fransisca Bunadi | Foto: Oyak Ayak Tim
