Bandung, 12 Juni 2026 — Telkom University (Tel-U) melalui Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi menggelar kuliah umum Studium General bertajuk “Artificial Intelligence: Tantangan dan Dampak Teknik, Sosial, Ekonomi, dan Regulasi di Indonesia” dengan menghadirkan Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dr. Ir. Ismail, sebagai pembicara utama pada Jumat (12/06). Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan implikasinya bagi masa depan Indonesia.
Mewakili Rektor Tel-U, Prof. Dr. Suyanto., Wakil Rektor Bidang Admisi, Kemahasiswaan, dan Endowment Tel-U, Prof. Dr. Ratri Wahyuningtyas, dalam sambutannya menyampaikan agar seluruh peserta dapat memperoleh manfaat maksimal dari forum berbagi pengetahuan ini. Ia juga mengapresiasi Fakultas Teknik Elektro beserta seluruh pihak yang telah menginisiasi dan mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Semoga rekan-rekan dapat memanfaatkan dan memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari kegiatan sharing saat ini. Kegiatan seperti studium general ini penting untuk mempererat hubungan kolaborasi antara perguruan tinggi dan para stakeholder, termasuk pemerintah,” ujarnya.
Prof. Ratri menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus dan stakeholder menjadi langkah penting untuk memastikan relevansi kurikulum, penguatan riset, serta kesiapan lulusan agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja.
Dalam pemaparannya, Dr. Ir. Ismail menekankan bahwa AI tidak semata-mata menggantikan peran manusia, tetapi juga membuka peluang baru di berbagai sektor bisnis dan industri. Menurutnya, perusahaan ke depan akan semakin mencari talenta yang mampu bekerja berdampingan dengan AI.
“AI bukan hanya menggantikan, tetapi juga menjanjikan peluang-peluang baru di setiap aspek bisnis perusahaan. Banyak core skills yang kini semakin dibutuhkan, seperti critical thinking, kreativitas, leadership, dan technology literacy,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan-kemampuan inti tersebut akan menjadi faktor penting dalam era AI, sebab teknologi ini akan semakin terintegrasi dalam aktivitas kerja sehari-hari. Generasi muda dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi kelompok yang paling adaptif terhadap perubahan teknologi ini.
“Gelombang AI ini harus cepat diadopsi dan diadaptasi oleh generasi muda. Adaptasi menjadi kunci, karena perubahan AI berlangsung sangat cepat,” tambahnya.
Sesi diskusi berlangsung interaktif, salah satunya ketika seorang mahasiswa mengangkat isu mengenai paradoks AI: di satu sisi AI membawa manfaat besar, tetapi disisi lain berpotensi disalahgunakan oleh generasi muda untuk hal-hal yang kurang etis dan dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Ismail menekankan bahwa tantangan utama AI bukan sekadar penggunaan teknologinya, melainkan perubahan pola pikir (mindset) dalam memandang transformasi digital.
Ia menjelaskan bahwa digitalisasi dan AI tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai alat bantu untuk memperbaiki proses bisnis, melainkan sebagai elemen strategis yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Digital dan AI bukan sekadar tools. Ini adalah faktor penting untuk pertumbuhan ekonomi nasional dan untuk membantu Indonesia keluar dari jebakan middle income trap. Karena itu, investasi pada bidang digital dan AI menjadi sangat penting,” tegasnya.
Kuliah umum ini menegaskan komitmen Telkom University dalam menghadirkan ruang akademik yang responsif terhadap perkembangan teknologi global. Melalui forum seperti ini, kampus terus mendorong lahirnya talenta-talenta unggul yang tidak hanya adaptif terhadap AI, tetapi juga memiliki karakter, etika, dan kompetensi yang relevan untuk berkontribusi bagi masyarakat dan dunia industri.
Penulis: Belinda Fransisca Bunadi| Editor: Abdullah Adnan | Foto: Public Relations
